Reggae berbasis pada gaya ritmis yang bercirikan aksen pada off-beat atau sinkopasi, yang disebut sebagai skank. Pada umumnya reggae memiliki tempo lebih lambat daripada ska maupun rocksteady. Biasanya dalam reggae terdapat aksentuasi pada ketukan kedua dan keempat pada setiap bar, dengan gitar rhythm juga memberi penekanan pada ketukan ketiga; atau menahan kord pada ketukan kedua sampai ketukan keempat dimainkan. Utamanya "ketukan ketiga" tersebut, selain tempo dan permainan bassnya yang kompleks yang membedakan reggae dari rocksteady, meskipun rocksteady memadukan pembaruan-pembaruan tersebut secara terpisah.
Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda.
"Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari
rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras
Muhamad (23), pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae
di New York dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik
ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat
pada para penggemar musik tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat
pada filosofi rasta itu sendiri. "Di sini, penggemar musik reggae, atau sering diidentikkan salah kaprah disebut rastafarian, dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini. Padahal,
filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih,
tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut
rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan
mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak
ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari," papar Ras.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar